Pertolongan Pertama pada penderita “Cardiac Arrest” – Malala Radio 105.2 FM

Pertolongan Pertama pada penderita “Cardiac Arrest”

Sejak raja POP Michael Jackson meninggal dunia, yang diduga kuat disebabkan oleh “cardiac arrest”.  Istilah ini pun  makin populer  dikalangan  kesehatan maupun masyarakat awam.
Kelainan ritme jantung  yang mematikan ini dapat dipicu oleh oleh banyak hal, seperti stress, konsumsi narkoba, aktifitas fisik berlebihan,  suhu badan tinggi atau rendah secara mendadak, infeksi, rasa sakit yang sangat  dibagian mana saja dari tubuh dan apapun penyebabnya, makanan atau obat-obat tertentu yang dapat mengganngu ritme jantung.  Semua pencetus tersebut diatas baru dapat menyebabkan terjadinya cardiac arrest, umumnya dialami apabila penderita sudah menderita penyakit jantung dengan atau tanpa adanya keluhan penyakit jantung sebelumnya.  Kejadian cardiac arrest dapat saja terjadi bagi mereka yang sama sekali tidak ditemukan adanya kelainan jantung, namun frekuensinya sangat kecil.  Karena tingginya angka kematian penderita cardiac arrest, maka penanganan  sesegera mungkin bagi yang mengalaminya harus dikerjakan.  Metode yang sering dipakai yakni CPR Cardio Pulmonary Resusitation (CPR),  yang dibagi menjadi dua, pertama, bantuan hidup dasar (BCLS=Basic Cardiac Life Support) , kedua,  bantuan hidup lanjut (ACLS = Advance Cardiac Life Support).  Karena peristiwa Cardiac Arrest banyak terjadi diluar rumah sakit atau dalam kehidupan sehari-hari, maka CPR dasar banyak dilakukan dan diajarkan kepada tenaga kesehatan (perawat/paramedis) dan masyarakat awam. Sedangkan CPR lanjut dilakukan oleh dokter dan umumnya di rumah sakit. CPR dasar yaitu menekan dinding dada dengan kedalaman 5 cm (penderita dewasa) dengan kecepatan 100 kali permenit dan setiap 30 kompresi dada dilakukan 2 kali napas buatan, yaitu dengan meniup mulut penderita. Hal ini dilakukan terus sambil menunggu bantuan atau ambulance dan  segera dibawa ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan CPR lanjutan (ACLS).

Kompresi dada.

Menurut, Dr Marc Eckstein (University of Southern California, Los Angeles), kompresi dada adalah lebih utama dan jangan dihentikan selama minimal 2 menit, baru diberi napas buatan dan cara ini akan jauh lebih baik. Tujuan CPR adalah mempertahankan agar jantung dan otak tetap mendapatkan aliran darah. Hasil studi yang dilakukan di Airport Chicago dan LasVegas didapatkan angka keberhasilan mencapai 50 sampai 74% bagi penderita yang mengalami cardiac arrest dan segera mendapatkan CPR dan defibrilasi (tindakan mekanis listrik dengan alat defibrilator, sehingga ritme jantung kembali normal), tindakan CPR dan defibrilasi tersebut mereka lakukan dalam waktu yang sangat cepat, yaitu sekitar 3-5 menit setelah kejadian cardiac arrest.  Hal tersebut dimungkinkan karena mereka mempunyai tenaga terlatih, fasilitas dan alat yang memadai. Dengan demikian kiranya diperlukan peningkatan dan penambahan jumlah mereka yang terlatih melakukan tindakan CPR, tidak hanya terbatas tenada kesehatan akan tetapi mereka yang mempunyai hubungan erat dengan masyarakat umum. Diantaranya,  petugas keamanan (satpam), kepolisian, pramuka, pemadam kebakan, tim SAR, ibu-ibu PKK, dan organisasi pemuda serta organisasi kemasarakatan lainnya. Peran tokoh masyarakat, pemerintah serta media cetak dan elektronik yang selalu menginformasikan tanda dan gejala serta pertolongan awal penderita cardiac arrest sangat diperlukan. Sehingga angka kematian penderita Cardiac Arrest dapat ditekan seminimal mungkin.

#DZ1052 – malalaradio.com
http://jantunghipertensi.com/

DZ1052

simpleIIperfect

Anda Juga Perlu Membaca

Malala Radio